Senin, 15 Agustus 2016

KAMU

Kamu


Disini
Aku menyaksikan bagaimana rindu itu bersrang kembali.
Aku menyaksikan bagaimana rindu itu datang kembali.
Menghampiriku untuk kesekian kalinya.

Ia menembus halus pada tiap celah relung hati.
Menusuk kalbu dengan penuh kesungguhan.
Terus menumpuk dan nyaris menggunung.
Hingga membuat sesak, namun cukup kunikmati.

Aku dapat merasakannya.
Getaran itu.
Getaran saat diriku mulai merasa rindu.
Sudah berkali-kali aku mencoba untuk menolak kehadirannya.
Namun ia berontak, tak mau beranjak pergi.
Sebab aku terlupa, rindu tidak mempunyai kaki.

Kini.
Diriku terkalahkan oleh rindu.
Ya. Rindu menang.
Aku tidak bisa memaksakan rinduku untuk meninggalkan hati.
Hanya bisa meresapinya, menikmatinya.
Menghirup tiap titik rindunya yang kini menebar luas.

Jiwa ini selalu bertanya.
Mengapa rindu ini selalu menghampiri.
Sebelum akhirnya aku sadar.
Bahwa alasan dari rindu ini adalah, kamu.
Kamu.    
 

Senin, 08 Agustus 2016

Bertahan



BERTAHAN

Aku memilih bertahan
Hingga malam ini
Aku masih tetap pada pendirianku
Walau lelah
Berat ku rasakan
Tetapi, aku selalu berharap
Semoga keajaiban datang untuk ku

Memang aneh
Tak ada habis-habisnya
Jika itu tentangmu
Aku seperti menantang diriku sendiri
Sampai dimana kekuatanku tuk bersabar?
Menjalani semua ini

Walau aku tahu
Bukan sabar yang ada batasnya
Namun kekuatanku sebagai manusia yang diukur ketika sedang diuji olehNya
Menyerah?
Tunggu
Aku belum ingin itu menjadi pilihanku saat ini
Aku masih ingin menyebut namamu
Nama yang menjadi alasanku tuk jatuh cinta
Walau tak mesti engkau ketahui
Namun inilah hakikatnya jika harus jatuh cinta sebelum pada waktunya
Sakit ? karena itu ujian.

Dan ketika pada akhirnya aku telah berhenti menyebut namamu
Bukan berarti rasa ku ini telah hilang
Namun, kamu bukanlah alasan utamaku tuk harus merasakan jatuh cinta
Karena cinta yang tulus itu antara Allah dan hambaNya.

Dan jika akhirnya Allah tidak berpihak pada diriku
Diriku yang terus berdiri pada pendiriannya hanya untuk berharap kepadamu?
Akan ku simpan rasa ini untuk selamanya
Dalam lembaran kertas yang ditutup dengan kata ikhlas tertulis didalamnya
Lalu ku kenang sebagai kisah yang pernah ada antara aku dan kamu
Tetapi hanya Allah yang lebih dahulu mengetahui sampai manakah aku harus berharap.

Kamis, 04 Agustus 2016

LAKUKANLAH



Lakukanlah

Kamu masih ingin membuatku terluka?
Lakukanlah.
Sampai engkau lupa bagaimana aku bersabar untukmu.

Kamu masih ingin membuatku tersiksa?
Lakukanlah.
Sampai engkau lupa bagaimana aku bertahan untukmu.

Lakukanlah.
Karena engkau sendiri tak akan  mengetahuinya.
Tak akan menyadarinya.
Tak merasakan apa yang aku rasakan.
Dari sini
Ditempat dimana aku bersembunyi.

Aku tahu ini perbuatan sia-sia.
Aku tahu ini tidak masuk akal.
Hanya aku seorang
Yang melakukan hal-hal seperti ini.

Tapi aku terus berusaha.
Terus berdiri pada satu alasan.
Karena aku juga berhak merasakan apa itu jatuh cinta pada ciptaanNya.

Walau ini rumit.
Menyiksa batin dengan kesendirian.
Tapi ini mengajarkan bahwa aku akan tetap kuat tuk menghadapinya.

Aku tak akan menganggap engkau adalah sebuah kesalahan untuku.
Karena sebelumnya aku sudah tahu.
Jatuh cinta kepadamu adalah sebuah cara tuk merasakan apa itu patah hati.
Aku Hanya Ingin Kau Tersenyum

Sebenarnya.
Aku belum ingin pergi.
Memandangi senyumanmu.
Sekali lagi.
Walau aku tahu.
Senyuman itu bukan hanya untuk ku.
Sebelum aku benar-benar melangkahkan kaki.
Menjauh dari dirimu.
Dan seketika lenyap dari duniamu.
Satu pintaku.
Tetaplah tersenyum.
Aku tak ingin mendengar.
Jika suatu hari nanti kau terluka.
Atau senyuman itu luntur karena air mata.
Tidak.
Aku hanya ingin melihatmu bahagia.
Bahagia yang tak akan pernah engkau membaginya kepadaku.
Karena aku sadar.
Aku bukan siapa-siapa.
Diriku hanya sebatas seseorang yang ingin selalu berdiri dibelakangmu.
Mengikuti langkahmu.
Mendukung keinginanmu.
Impianmu.
Cita-citamu.
Semuanya untukmu.
Bagaimana aku membuktikannya?
Bagaimana aku melakukannya?
Sedangkan kita tidak akan pernah berjumpa kecuali Allah yang berkehendak?
Dan ternyata.
Semua itu telah menjadi satu dalam lantunan harapan.
Yang ku sebut itu do’a.
Walau aku pergi.
Walau aku sudah tidak menjadi pengikut rahasiamu.
Setidaknya ada doa yang dapat mengingatkanku kembali.
Bahwa aku pernah menjadikanmu cerita yang manis didalam hidupku dihadapanNya.
Jika suatu hari nanti aku sudah lupa untuk menyebut namamu?
Semoga do’aku telah didengarkan olehNya terlebih dahulu.
Yaitu engkau harus tersenyum bahagia.
Tanpa adanya aku yang menjadi saksi atas kisahmu.

Selasa, 02 Agustus 2016

Mencintaimu Dalam Diam

Jatuh cinta dalam diam. bukan perkara yang mudah. Dia bisa berontak, mengobrak-abrik logika dan perasaan.
Kadang rasanya ingin berteriak, menyadarkanmu bahwa ada aku yang selalu menunggumu.
Namun ketika memang diam adalah pilihan terbaik saat ini, hanya tulisan ini yang mampu tertuang, berharap suatu saat kamu membaca dan menyadari ada hati begitu kuat menahan rasanya demi menanti waktu yang tepat.
Aku wanita kadang kami meletakan harga diri sangat tinggi, terutama dalam kasusku, dimana aku sadar bahwa diam menjadi pilihan terbaikku untuk mencintaimu.
Aku menyisipkan namamu di akhir doaku, untuk menjadi pasrah bahwa diakhir penantian ini cerita kita menjadi indah.
Dalam lirih ada namamu tersisip di ujung doaku. Berharap jika memang takdir menyatakan kita harus bersama, semoga aku dan kamu diberikan kesabaran sampai waktunya.
Karena memang jodoh tak pernah salah jalan, dia akan selalu datang dihati yang ditakdirkan menjadi rumah menggapai cinta dan bahagia dunia akhirat.  

Jumat, 22 Juli 2016

Karena Aku Wanita

Karena aku wanita.
Aku bisa merasakan hal yang tak bisa engkau rasakan.
Aku bisa merasa sedih tanpa engkau sadari.
Namun kae hanya mampu menilai diriku begitu mudahnya?
Karena aku wanita.
Aku bisa merasa rapuh tanpa kau memintanya,
Aku bisa merasa bahagia tanpa kau suruh.
Aku bisa melalukan hal yang tanpa kau ada didalamnya.
Namun, mengapa kau selalu menganggap aku lemah.
Karena aku wanita.
Aku tahu membedakan yang mana hanya sekedar suka dan rasa sayang,
Aku tahu merasakan hal-hal yang jauh dari engkau bayangkan.
Namun, kau selalu menganggap bahwa itu hanya perasaanku saja?
Bawa perasaan karena suasana.
Karena aku wanita.
Bukan berarti aku lemah.
Bukan berarti aku ingin dibodohi.
Bukan berarti aku tak tahu tentang apa yang terjasi disekitarku.
Namun yang engkau anggap seperti itu kepadaku itu adalah hal yang sangatlah salah.
Wanita sangat peka dengan hati.
Dan kau hanya menggunakan logikamu tuk menilaiku?
Beserta hatiku?
Bukan berarti engkau seenaknya berkata demikian, beranggapan yang tak sewajarnya.
Mungkin itu karena logikamu?
Bukan hatimu?
Karena aku wanita.
Maka aku lebih tahun apa yang tidak kau rasakan.